Akhirnya zaman-zaman gabutku di kampus udah berakhir yeah ^_^! tapi masih sempet-sempetnya nulis di blog. Entah kenapa ada perasaan yang mendorong buat nengokin blog sebentar sekalian corat-coret.
Berjalan diatas Cahaya dan 99 Cahaya di langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais berserta suami dan kawan-kawannya ngingetin aku sama salah satu kejadian batin yang dialami sekitar satu setengah yang lalu di Eropa, perasaan batin yang nggak akan pernah dilupakan seumur hidupku dan bakal dikenang selamanya.
Memang sih kejadiannya simpel banget tapi bagi aku ,ini sebuah titik permulaan untuk berubah menjadi identitasku yang sebenarnya. Ya, identitasku sebagai seorang muslimah yang sesungguhnya.
Awalnya memang sekedar mencari tempat ibadah umat muslim di Freiburg, kota yang punya julukan kota terhangat di Jerman sekalian cari tempat sholat jum'at buat teman-temanku yang cowok. Naik Littenweiler dari halte dekat Jungendheberge turun di banhof habis itu naik Strassenbahn yang huruf depannya R (udah lupa namamya >,<). Dalam perjalanan aku penasaran banget gimana bentuk masjidnya ya?gede atau nggak?atau malah segede masjid yang ada di Berlin?(Soalnya waktu itu di Goethe ada pameran foto masjid dan aku lihat gede ya masjidnya) akhirnya Strassebahn berhenti di sebuah halte, seingatku hanya aku, empat orang temanku, guru pendampingku dan guru pendamping dari Bosnia yang ada di halte itu. Setelah itu kita jalan nggak jauh dari halte dan nemui sebuah bagunan yang mirip rumah bercat hijau. Waktu itu aku heran , mana masjidnya?dan nggak disangka bangunan yang bercat hijau itulah masjid.Seingatku di Jerman memang tidak mudah membangun rumah apalagi masjid tapi gimanapun juga Allah Swt ialah Yang Maha Kuasa dan jika Dia berkehendak terjadilah maka terjadilah.
Majid itu memiliki dua tingkat, tingkat pertama di khususnya untuk pria dan wanita berada di lantai dua disebelah masjid juga ada toko yang menjual barang-barang(kayaknya makanan halal, alat ibadah dll). Aku, guru pendampingku dan dua orang teman perempuanku naik kelantai dua, disaat yang sama sedang dilangsungkan belajar mengaji bersama ,jadi ingat jaman masih kecil belajar ngaji di masjid , aku juga ketemu sama salah satu anak kecil yang cantik banget (kayaknya dia orang Turki atau mix Turki-Jerman). Subahanallah , aku salut banget sama anak-anak yang belajar mengaji disana ,mereka tetap mempertahankan jati diri mereka sebagai seorang muslimah di sebuah negara sekuler yang mengagung-agungkan asas Liberalisme.Tidak lama kemudian Ustadzah di masjid itu datang dan kami semua bersalaman dengan beliau. Beliau bercerita banyak hal tentang muslim di Freiburg (waktu itu bahasa jerman masih belepotan banget) dan bahwa orang tuanya berasal dari Turki tetapi beliau dilahirkan dan dibesarkan di Freiburg .Subahanallah, Kuasa Allah Swt memang dahsyats, beliau lahir dan besar di Jerman tapi tetap bisa menjaga identitas beliau sebagai seorang musliman ditengah peradaban bebas yang dianut Jerman, pasti tidak mudah untuk beliau apalagi dengan adanya sentimen negatif dunia barat terhadap Islam beliau tetap mempertahankan identitasnya sebagai muslimah .Sedangkan aku ? jujur aku malu banget waktu itu kalo ngeliat diri sendiri , nggak jilbaban padahal lahir dan besar di negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia . Mana identitasku? katanya aku muslimah tapi tidak ada identitas yang melekat pada diriku. Alhamdulillah di negara sekuler ini aku mendapatkan sebuah pencerehan tentang menjadi seorang muslimah.
Tak lama setelah itu, kami berpamitan dengan Ustadzah karena kami punya janji dengan teman-teman yang lain dan nggak disangka beliau memberikan kami semua masing-masing sebuah Alquran, dan yang aku yakini saat itu,Alquran ini oleh-oleh terbaik yang pernah ada. Aku berjanji,jika Allah Swt memberikan ku kesempatan lagi untuk ke Jerman atau Eropa, masjid ini akan menjadi salah satu tujuan must-visit ku.
Tidak hanya pengalamanku berkujung ke masjid, salah satu temanku dari Indonesia pernah bertanya kenapa kamu nggak jilbaban ? waktu itu speechless banget nggak tau harus gimana terus temanku yang lain mengatakan karena belum siap kan sayang nanti kalo di lepas lagi, aku tau alasan seperti itu bukanlah alasan yang benar karena gimanapun jilbab itu wajib .Ditambah lagi dengan pertanyaan temanku yang berasal dari Uzbekitan yang berdarah Rusia, dia juga menanyakan hal yang sama dan kembali lagi aku speechless.
Setelah kembali ke tanah air ,aku merenungkan semua pengalaman yang aku dapatkan disan tentang identitasku dan jilbab dan dengan Bismillah, setelah aku rampungaka unasku aku akan berjilbab karena Jilbab, ini Identitasku.
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Qs. Al-Ahzab: 59].
“…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” [QS. An-Nuur 24:31]
“Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” [HR. Hakim].
Freiburg ( Maaf nggak pintar foto T^T )

